Selasa, 15 Mei 2012
Gaya Korea Style
Demam korea style semakin menjadi di Indonesia. Lihat saja anak muda di Indonesia menggunakan model baju terbaru dengan gaya korea atau Korean style. Hal ini tak lepas dari peran invasi artis, band, serta grup musik Korea di kalangan anak muda Indonesia. Keunikan gaya dalam berbusana menginspirasi pecinta fashion di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Negara Korea sekarang menjadi salah satu negara acuan fashion di Asia selain Jepang. Gaya layering atau baju bertumpuk, tabrak motif dan warna, serta inovasi dan kreatifitas dalam padu padan baju serta aksesoris memang terlihat menarik dan enak dipandang. Hal ini juga didukung dengan banyaknya designer asal Korea yang berkancah di dunia Internasional dan mendapatkan appresiasi dari masyarakat dunia.
Jika kamu ingin tampil bergaya ala Korea, caranya cukup mudah, tapi kalian harus pede atau percaya diri dan berani memadupadankan warna dan motif. Atau bisa saja menumpuk pakaian untuk bergaya. Referensi untuk bergaya ala korea sekarang sudah banyak di majalah atau pun di Internet.
Model baju terbaru korea pun selalu update dan memiliki banyak pilihan yang membuat kamu terlihat ceria dan lebih semangat. Jangan lupa tambahkan aksesoris yang membuat tampilanmu lebih keren.
Korea Style mulai masuk di Indonesia pada awal tahun 90-an Jepang style masuk ke Indonesia, salah satunya melalui serial televisi berjudul Tokyo Love Story. Sepuluh tahun kemudian, berubah menjadi demam Taiwan dengan grup boyband F4 sebagai salah satu ikonnya dan serial televisi Meteor Garden.
Kini, seiring semakin kuatnya penjualan produk elektronik perusahaan asal korea seperti Samsung dan LG, anak muda pun heboh dengan gaya Korea, mulai dari cara berpakaian, tatanan rambut, hingga gaya musik.
Korean Style, istilah yang digunakan oleh banyak anak muda hingga artis yang mendaptasi gaya orang Korea. Gaya berbusana dan musik Indonesia saat ini memang sedang berkiblat ke sana. Hal ini terlihat jelas dari banyaknya boyband dan girlband bermunculan dengan gaya busana, tarian, dan musik mirip dengan gaya Korea.
Cara berpakaian orang Korea pada dasarnya sama seperti orang-orang di Asia seperti Thailand, Hongkong, Singapura dan Indonesia. Namun, mereka lebih berani bereksplorasi, mirip gaya harajuku di Jepang.
Salah satu contoh, perempuan di Indonesia belum banyak yang menggunakan stocking setinggi paha, di Korea justru sebaliknya. Bagi mereka stocking tipis, setinggi paha, atau bahkan kaos kaki lucu merupakan item wajib dalam berpakaian. Untuk acara resmi, mereka juga memiliki gaya tersendiri. Anak muda Korea selalu menggabungkan jas dengan kaus oblong atau dalaman yang sekiranya terlihat serasi dengan jas yang digunakan.
Untuk keseharian, mereka biasanya mengenakan pakaian sesuai dengan musim. Uniknya, meskipun menggunakan bawahan yang agak terbuka tapi hampir semua cewek Korea memakai atasan yang tertutup dengan cardigan atau mini blazer.
Banyak orang masih mengira gaya Korea hampir sama dengan Taiwan, gaya busana yang sebelumnya juga banyak ditiru anak muda di Indonesia. Beberapa orang juga menganggap gaya musik mereka hampir sama dengan banyaknya boyband dan boygirl seperti di negara tetangganya, Taiwan.
Resti Indah Pravianti, Ketua Energy Fans Club Indonesia dan pengurus beberapa fans club band asal Taiwan di Indonesia mengatakan gaya Korea dan Taiwan berbeda, walaupun sekilas terlihat sama.
“Gaya artis kedua negara tersebut sebenarnya jauh berbeda. Perbandingan terlihat pada artis pria Korea yang cenderung lebih gemulai dan cantik dibandingkan dengan artis pria asal Taiwan,” ujarnya baru-baru ini.
Pengurus fans club F4, Jolin, Rainie yang, JJ Lin, dan Toro ini menambahkan penggemar Jepang dan Taiwan biasanya tetap setia dan jarang menjadi penggemar Korea. Kebanyakan malah tidak suka.
Dia menjelaskan hal ini karena musik Korea banyak memainkan kembali lagu-lagu, musik, dan film atau serial televisi drama Jepang.
Dibantu promosi
Resti menjelaskan demam Korea tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara Asia lainnya seperti Singapura, Malaysia, China, bahkan hingga Taiwan. Hal ini terjadi karena pemerintah mereka juga sangat mendukung kegiatan promosi tentang Korea.
“Pemerintahnya bantu promosi gila-gilaaan hingga sekarang ibu rumah tangga menjadi penggemar drama Korea dan anak muda menyukai musiknya, termasuk grup lokal yang bergaya Korea,” ujarnya.
Demam Korea sebenarnya sudah mulai masuk sekitar 7 tahun lalu, tetapi baru menjadi booming setelah didukung penuh pemerintahnya tiga tahun lalu. Pemerintah Korea Selatan melakukan promosi gila-gilaan di semua negara Asia.
Korea Selatan juga membuka kesempatan bagi anak muda untuk meneruskan edukasinya di Korea. Tersedia juga peluang memperoleh beasiswa yang disediakan oleh pemerintah negara tersebut. (*)
Selasa, 24 April 2012
Khas Indonesia, Asep Wahyu Menangi Kompetisi JanSport
Khas Indonesia, Asep Wahyu Menangi Kompetisi JanSport
ASEP Wahyu dari Lembang, Bandung, berhasil menjadi pemenang JanSport Bag Design Competition. Kreasinya dinilai memenuhi kriteria yang ditetapkan Jansport, terutama desain yang khas Indonesia.
JanSport Bag Design Competition merupakan kompetisi desain tas bertemakan Indonesia. Sejak lomba diumumkan pada 1 Mei hingga 15 Juni 2011, sebanyak 600 desain telah masuk ke meja tim juri JanSport Indonesia.
"Ide desain saya ambil dari lagu 'Manuk Dadali' di mana saya menggambar burung garuda menggunakan spidol dan drawing pen hanya dalam waktu 2 jam," kata Asep pada "Pengumuman Pemenang JanSport Bag Design Competition" di The Goods Dept, Plaza Indonesia, Jakarta Kamis (21/7/2011).
Ditambahkan Johan Sebastian selaku Brand Manager JanSport Indonesia, sebanyak 600 desain yang masuk kemudian diseleksi menjadi 50 desain untuk dikirimkan ke kantor pusat JanSport di Amerika. Skip Yowell selaku Co-Founder JanSport telah memilih tiga desain terbaik yang memenuhi kriteria seperti dicari Jansport, yakni sesuai tema, kreatif, original, penerapan desain pada template tersedia, dan kesesuaian dengan JanSport brand personality.
"Dalam rencana tahun depan, desain Asep akan kami produksi secara massal. Kompetisi ini pertama kalinya kami adakan, karena kami merasa belum ada desain tas JanSport yang khas Indonesia. Kompetisi ini menjadi kesempataan untuk anak muda Indonesia menuangkan ekspresi dalam bentuk tas," papar Johan.
Pemenang Jansport Bag Design Competition lainnya, adalah Teguh Sanjaya dari Jakarta sebagai pemenang kedua yang berhak mendapatkan uang tunai Rp5juta dan Norma Aisyah dari Bandung sebagai pemenang ketiga berhak mendapatkan uang tunai Rp2juta. Sementara, Asep mendapatkan uang tunai Rp10juta dan lima pemenang favorit yang telah mengumpulkan "Like" terbanyak di Facebook berhak membawa pulang produk JanSport senilai Rp500 ribu
ASEP Wahyu dari Lembang, Bandung, berhasil menjadi pemenang JanSport Bag Design Competition. Kreasinya dinilai memenuhi kriteria yang ditetapkan Jansport, terutama desain yang khas Indonesia.
JanSport Bag Design Competition merupakan kompetisi desain tas bertemakan Indonesia. Sejak lomba diumumkan pada 1 Mei hingga 15 Juni 2011, sebanyak 600 desain telah masuk ke meja tim juri JanSport Indonesia.
"Ide desain saya ambil dari lagu 'Manuk Dadali' di mana saya menggambar burung garuda menggunakan spidol dan drawing pen hanya dalam waktu 2 jam," kata Asep pada "Pengumuman Pemenang JanSport Bag Design Competition" di The Goods Dept, Plaza Indonesia, Jakarta Kamis (21/7/2011).
Ditambahkan Johan Sebastian selaku Brand Manager JanSport Indonesia, sebanyak 600 desain yang masuk kemudian diseleksi menjadi 50 desain untuk dikirimkan ke kantor pusat JanSport di Amerika. Skip Yowell selaku Co-Founder JanSport telah memilih tiga desain terbaik yang memenuhi kriteria seperti dicari Jansport, yakni sesuai tema, kreatif, original, penerapan desain pada template tersedia, dan kesesuaian dengan JanSport brand personality.
"Dalam rencana tahun depan, desain Asep akan kami produksi secara massal. Kompetisi ini pertama kalinya kami adakan, karena kami merasa belum ada desain tas JanSport yang khas Indonesia. Kompetisi ini menjadi kesempataan untuk anak muda Indonesia menuangkan ekspresi dalam bentuk tas," papar Johan.
Pemenang Jansport Bag Design Competition lainnya, adalah Teguh Sanjaya dari Jakarta sebagai pemenang kedua yang berhak mendapatkan uang tunai Rp5juta dan Norma Aisyah dari Bandung sebagai pemenang ketiga berhak mendapatkan uang tunai Rp2juta. Sementara, Asep mendapatkan uang tunai Rp10juta dan lima pemenang favorit yang telah mengumpulkan "Like" terbanyak di Facebook berhak membawa pulang produk JanSport senilai Rp500 ribu
Label:
Bisnis Baju,
Bisnis Lebaran,
Bisnis Pakaian,
Grosir,
Grosir Baju Muslim,
Grosir Pakaian Muslim,
Lebaran,
Pakaian Grosir Bandung,
Pakaian Grosir Bandung,
Reseller
Deretan Tas Terpopuler
BAGI wanita, tas tangan menjadi simbol status. Birkin dan Kelly dari Hermes atau Diamond Forever dari Chanel adalah beberapa di antara tas paling populer di dunia.
Seperti juga sepatu, tas tangan menjadi fashion statement yang tidak bisa dikesampingkan. Alasan itu yang menjadikan Marc Jacobs begitu serius menggarap lini aksesori untuk tiga label yang ditanganinya, Louis Vuitton, Marc Jacobs, dan Marc by Marc Jacobs.
Bukan hanya Jacobs, Karl Lagerfeld dari Chanel, serta Frida Giannini dari Gucci juga tidak ketinggalan “memoles” koleksi aksesorinya, termasuk tas tangan dan sepatu, yang selalu terlihat menonjol di atas runway.
“Pasar menginginkan tas dan sepatu yang memberi pernyataan dan para desainer memenuhi kebutuhan itu,” sebut editor mode Pauline Westin Thomas, yang mengatakan di era ini, tas tangan adalah roda pemutar pundi-pundi rumah mode serta label fashion, selain parfum.
Label-label papan atas dunia, seperti Hermes, Christian Dior, Prada, Chanel, Fendi, Gucci, dan Louis Vuitton, berlomba-lomba menghadirkan the it bag, bersaing dengan label yang memang berjalan di jalur aksesori dan leather product layaknya Bottega Veneta, Loewe, Kate Spade, Jimmy Choo, atau Anya Hindmarch.
Di Jakarta, para sosialita juga bergegas membeli tas Hermes untuk koleksinya. Bahkan, mereka rela merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk memilikinya. Seorang sosialita mengaku pernah membeli tas Hermes dengan harga Rp400 juta hingga Rp700 juta.
Sosialita Dian M Muljadi sekaligus Publishing Director www.fimela.com mengatakan, tidak sedikit teman wanitanya yang memiliki tas Hermes sebagai investasi. Kenyataannya, memang bisa dikatakan begitu.
Saat ini, begitu diinginkannya tas Hermes ini, terutama Birkin atau Kelly bag, orang rela membeli di secondary market alias beli second hand. Dian juga bercerita, membeli Hermes adalah langkah investasi dan bukan sekadar nafsu hedonisme fashion.
Dua pengusaha perempuan sekaligus sosialita, Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi, yang juga menyukai Hermes, malah melebarkan kecintaannya terhadap tas tersebut dengan berbisnis menjadi reseller.
Dalam buku kedua mereka yang berjudul HermesTemptation juga dijelaskan bagaimana para reseller dan penggemar tas Hermes mengetahui lebih detail tentang produk tas Hermes, mulai dari cara pembuatan, spesifikasi, jenis kulit, hingga cara mengidentifikasi keaslian sebuah tas.
Selanjutnya, Hermes punya Kelly dan Birkin, dua tas tangan ikonik dengan daftar pemesanan panjang. Marc Jacobs selalu sukses dengan koleksi tas tangan bergaya muda yang laris manis setiap musim.
Sementara, Bottega Veneta tidak pernah gagal menjual produk kulit berdetail anyam yang menjadi ciri khasnya. Sementara, Kate Spade menarik konsumen melalui desainnya yang catchy dengan warna-warna cerah.
Namun, tentu saja berbicara tas bermerek terkenal berarti membicarakan uang dalam jumlah banyak. Jika Jimmy Choo menjual koleksinya dengan rata-rata USD300, maka Hermes bisa menjual Birkin dengan harga USD6.000 untuk ukuran yang paling kecil dan bisa mencapai harga puluhan ribu dolar
BAGI wanita, tas tangan menjadi simbol status. Birkin dan Kelly dari Hermes atau Diamond Forever dari Chanel adalah beberapa di antara tas paling populer di dunia.
Seperti juga sepatu, tas tangan menjadi fashion statement yang tidak bisa dikesampingkan. Alasan itu yang menjadikan Marc Jacobs begitu serius menggarap lini aksesori untuk tiga label yang ditanganinya, Louis Vuitton, Marc Jacobs, dan Marc by Marc Jacobs.
Bukan hanya Jacobs, Karl Lagerfeld dari Chanel, serta Frida Giannini dari Gucci juga tidak ketinggalan “memoles” koleksi aksesorinya, termasuk tas tangan dan sepatu, yang selalu terlihat menonjol di atas runway.
“Pasar menginginkan tas dan sepatu yang memberi pernyataan dan para desainer memenuhi kebutuhan itu,” sebut editor mode Pauline Westin Thomas, yang mengatakan di era ini, tas tangan adalah roda pemutar pundi-pundi rumah mode serta label fashion, selain parfum.
Label-label papan atas dunia, seperti Hermes, Christian Dior, Prada, Chanel, Fendi, Gucci, dan Louis Vuitton, berlomba-lomba menghadirkan the it bag, bersaing dengan label yang memang berjalan di jalur aksesori dan leather product layaknya Bottega Veneta, Loewe, Kate Spade, Jimmy Choo, atau Anya Hindmarch.
Di Jakarta, para sosialita juga bergegas membeli tas Hermes untuk koleksinya. Bahkan, mereka rela merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk memilikinya. Seorang sosialita mengaku pernah membeli tas Hermes dengan harga Rp400 juta hingga Rp700 juta.
Sosialita Dian M Muljadi sekaligus Publishing Director www.fimela.com mengatakan, tidak sedikit teman wanitanya yang memiliki tas Hermes sebagai investasi. Kenyataannya, memang bisa dikatakan begitu.
Saat ini, begitu diinginkannya tas Hermes ini, terutama Birkin atau Kelly bag, orang rela membeli di secondary market alias beli second hand. Dian juga bercerita, membeli Hermes adalah langkah investasi dan bukan sekadar nafsu hedonisme fashion.
Dua pengusaha perempuan sekaligus sosialita, Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi, yang juga menyukai Hermes, malah melebarkan kecintaannya terhadap tas tersebut dengan berbisnis menjadi reseller.
Dalam buku kedua mereka yang berjudul HermesTemptation juga dijelaskan bagaimana para reseller dan penggemar tas Hermes mengetahui lebih detail tentang produk tas Hermes, mulai dari cara pembuatan, spesifikasi, jenis kulit, hingga cara mengidentifikasi keaslian sebuah tas.
Selanjutnya, Hermes punya Kelly dan Birkin, dua tas tangan ikonik dengan daftar pemesanan panjang. Marc Jacobs selalu sukses dengan koleksi tas tangan bergaya muda yang laris manis setiap musim.
Sementara, Bottega Veneta tidak pernah gagal menjual produk kulit berdetail anyam yang menjadi ciri khasnya. Sementara, Kate Spade menarik konsumen melalui desainnya yang catchy dengan warna-warna cerah.
Namun, tentu saja berbicara tas bermerek terkenal berarti membicarakan uang dalam jumlah banyak. Jika Jimmy Choo menjual koleksinya dengan rata-rata USD300, maka Hermes bisa menjual Birkin dengan harga USD6.000 untuk ukuran yang paling kecil dan bisa mencapai harga puluhan ribu dolar
Label:
Bisnis Baju,
Bisnis Lebaran,
Bisnis Pakaian,
Grosir Baju Muslim,
Grosir Pakaian Bandung,
Muslim,
Pakaian Grosir Bandung,
Pakaian Grosir Bandung,
Paket,
Reseller
Kamis, 19 April 2012
Rabu, 18 April 2012
Sabtu, 14 April 2012
Koleksi Sepatu wanita Made In Bandung
Koleksi Sepatu wanita
Kini Kami hadir di Indonesia dengan model-model yang sangat stylish dan modern.
Semakin banyak wanita yang menyadari bahwa banyak sepatu yang lebih mahal daripada sepatu wanita Made In Bandung, namun hampir tidak ada sepatu yang lebih nyaman dipakai daripada sepatu Made In Bandung.
Dengan bertambahnya koleksi koleksi yang sylish, maka kini sepatu wanita Made In Bandung semakin menjadi favorit para wanita.
Wanita yang bekerja di kantor, maupun yang berstatus ibu rumah tangga kini semakin menggandrungi sepatu Made In Bandung, karena selain stylish, nyaman dipakai, sepatu Made In Bandung juga dibuat untuk tahan lama.
Langganan:
Postingan (Atom)





